Invasive Alien Species

Species Name: Ageratum conyzoides

Family Name:
Tropical America, Central & South America.
Annual herb, erect, quite succulent and 20-80 cm tall .  Stem long, hairy with many branches arising from the base of the leaf stalk.  Lower leaves with long stalk are opposite while those higher up are alternate leaves with short stalk, soft, rhomboid-ovate, 5-13 cm x 3-5 cm  have shallow blunt teeth; the surface rough and veins prominent; tip acute, narrowing abruptly at the base of hairy petiole 2-3 cm long.  Inflorescences terminal with many branches, each bearing a number of flower heads arranged in flat-topped clusters; flower heads white or  violet with 45-80 tubular flowers held together by green bracts; bracts linearly arranged in two or three rows, smooth toothed in upper part and acute at the tip; head clusters (corymbs) small on peduncles, 5-17 mm long, no ray floret.  Achenes are black. Each has a few greenish or white flatten scales with bristle.
Invaded Habitat:
An important weed of chili, onion, potato, vegetable crops, in upland rain-fed cane fields, tea, coffee plantations, clove, pepper, cacao, cashew nut, oil palm, also nurseries and young rubber plantations. It is also commonly found in roadsides, lawns, wastelands, shifting cultivations, dry lands, tidal areas, pastures and as undergrowth at the Botanical Garden.
Introduced in Java already much more than a century ago and distributed widely in Indonesia.
The plant can produce 40 000 seeds per plant and one half of these seeds can germinate shortly after they have been shed. Seeds are light and easily dispersed by wind or carried by water and germinate under a wide range of environmental conditions. It is grow well up to 3000 m alt.
  1. Backer , C. A. & R. C. Bakhuizen Van Den Brink.  1965.  Flora of Java. N.V. P. Noordhoff. Groningen, Netherlands
  2. Budiman, A., M. Thamrin and S. Asikin.  1988.   Beberapa Jenis Gulma di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan dan Tengah dengan Tingkat Kemasaman Tanah Yang Berbeda.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  3. Budiman, A., S. Asikin and N. Jahab.  1992.  Aplikasi Herbisida Pratumbuh dan Jarak Tanam untuk Mengendalikan Gulma pada Kacang Tanah di Lahan Kering.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  4. Dad R.J.S.  1992.  Pengendalian Gulma dengan Pengaturan Jarak Tanam dan Cara Penyiangan pada Pertanaman Kedelai.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  5. Dahlan, S. and Y. Sabri.  1988.  Jenis-Jenis Gulma yang Terserang Nematoda Bengkak Akar pada Kebun Kentang di Daerah Koto Baru Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  6. Garces, A.M et. al.  1992.  Ageratum conyzoides L.  Weed Info Sheet.  SEAWIC SEAMEO BIOTROP.  Bogor, Indonesia.
  7. Imamuddin, H.  1992.  Pengaruh Atrazin Terhadap Pertumbuhan Gulma di Lahan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  8. Kuntohartono, T., D. Sasongko and P. Tarmani.  1982.  Weed surveys and their economic importance in Java’s  upland cane fields.  Majalah Perusahaan Gula 18 (1-3): 94-101
  9. Kusnanto.  1992. Efisiensi Pengendalian Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung PandangMarihat Research Centre, Bagian Teknik Kultura.  1984.  Efficacy of Scout for weed control in oil palm circles and paths.  Pusat Penelitian Marihat, Pematang Siantar.
  10. Miyaura, Rie.  2001.  Weed Distribution and Its Control in Highland Indonesia : The Case of West Java and Bali.  In Highland Vegetable Cultivation in Indonesia, A Multi-Disciplinary Study toward Eco-Eco Farming.  Tokyo, Japan.
  11. Muditha, I.G., H. Simbolon and Roemantyo.  1988.  Komunitas Gulma Pada Berbagai Keadaan Lingkungan III. Komposisi Jenis Gulma Pada Berbagai Tipe Lapangan Rumput dan Jalan Gicok.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  12. Murwandono and I. Subagio.  1992.  Borreria alata (Aubl.) DC. Di Kebun Tebu Pabrik Gula Camming Sulawesi Selatan.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  13. Nasution, U.  1986.  Weed and its management in rubber plantation in North Sumatra and Aceh.  P4TM, Tanjung Morawa, Indonesia.
  14. Prabowo, D. and T. Ismail.  1988.  Fomesafen, a new herbicide to control broad-leaf weeds in leguminous cover crop and soybean.  In: Prosiding Konferensi HIGI IX Bogor Indonesia. (2): 434-438.
  15. Sastroutomo, S.S. and E.T. Pandegirot.  1988.  Survai Ekologis Gulma di Perkebunan Teh Ciliwung, Jawa Barat.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  16. Shiew, F.T. 1995. A Guide to the Wildflowers of Singapore. Singapore Science Centre, Science Centre Road, Singapore 2260
  17. Soekarmi, H., I.H. Utomo, J.H. Sardjono.  1992.  Inventarisasi dan Identifikasi Berbagai Jenis Gulma Dominan pada Berbagai Komoditas Andalan Perkebunan di Sulawesi Selatan.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  18. Soenartiningsih and Koesnang.  1992.  Kajian Inang Alternatif Virus Mosaik Kedelai Pada Beberapa Gulma Melalui Uji Serologi.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  19. Soejono, Endang, A. and S. Isniningsih.  1990.  Komunitas Tumbuhan Bawah di antara Tanaman Koleksi Pada Tiga Tingkat Pemeliharaan yang Berbeda.  Dalam Prosiding 1 Konferensi HIGI X. Malang, Indonesia.
  20. Soerjani, M.,  A. J. G. H. Kostermans & Gembong Tjitrosoepomo (Eds.).  1987.  Weeds of Rice in Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
  21. Songsak, S., S. Kongsangdow and K. Suwanarak.  1984.  Tobacco and weed problems.  Thai Journal of Weed Science 2 (1): 5-10.
  22. Subagio, I. And Murwandono.  1992.  Permasalahan dan Program Penanggulangan Gulma di PG Takalar.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.  Hal 125-131.
  23. Sudirman, A. and K. Amypalupy.  1988.  Efikasi Triclopyr Terhadap Tanaman Penutup Tanah Leguminosa di Jalur Tanaman Karet Muda.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.  Hal 286-295.
  24. Sumarno, A., S. Tjitrosoedirdjo and J. Wiroatmodjo.  1988.  Pengujian Herbisida Campuran Ammonium Glufosinate dengan Diuron dan 2,4 – D Pada Pengendalian Gulma di Jalur Tanaman Karet Belum Menghasilkan.   Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  25. Sumiasri, N. and M. Rahayu.  1992.  Gulma pada Sistem Perladangan Berpindah di Timor, NTT.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  26. Sutarto, I.G., P. Bangun, and D. Pasaribu.  1988.  Pengaruh Pengelolaan Lahan Jenuh Air Tanah, Pembumbunan dan Varitas Kedelai Terhadap Penampilan Gulma.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  27. Sutater, T. and P. Bangun.  1988.  Pengaruh Cara Penyiangan Terhadap Infestasi Gulma dan Produksi Cabe Kriting.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI IX.
  28. Syawal, Y. et al.  1992.  Gulma yang Dominan Pada Agroekosistem di Sumatera Selatan.  Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  29. Tjitrosemito, S. 1988.  Weed control on soybean crop using imazethaphyr.  In: Proc. 2nd Tropical Weed Science Conf. Pukt, Thailand. (2): 113-127.
  30. Tjitrosoedirdjo, S.S.  2000.  The Asteraceae of  Sumatera. Disertation. Post Graduate Programme, Bogor Agricultural University. Bogor
  31. van der Maesen and S. Somaatmadja (Eds).  1989.  PROSEA.  Plant Resources of South East Asia No. 1.  Pulses.  Pudoc/Prosea, Wageningen, the  Netherlands.
  32. Widaryanto, E. and S. Sukartomo.  1992.  Pengaruh Berbagai Dosis Herbisida Oxyfluorfen (Goal 2E) dan Waktu Penyiangan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis (Brassica oleracea L.). Dalam Prosiding Konferensi HIGI XI.  Ujung Pandang.
  33. Yasin, H.G., M.S. Pandang, A.M. Usman and F.A. Bahar. 1987.  Daya berantas berbagai herbisida terhadap gulma tanaman kedelai (Glycine max L.).  Bulletin Penelitian Gulma (1): 15-27
  34. Yasin, M., M.A. Nawir, Djamaluddin and E.O. Momuat.  1992.  Prospek Pengelolaan Gulma di Lahan Kering (Studi kasus lahan penelitian P3NT di P. Flores-NTT).  Dalam Prosiding Konferensi HHIGI XI.  Ujung Pandang.